SEKILAS INFO
: - Senin, 21-06-2021
  • 9 bulan yang lalu / STAI Ash-Shiddiqiyah – Program Studi: 1) Manajemen Pendidikan Islam; 2) Hukum Ekonomi Syari’ah; 3) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah; 4) Tadris Bahasa Inggris. “Salam Khidmat Untuk Umat”
  • 1 tahun yang lalu / Masa KHS sudah mulai dan segera buka masa KRS, bagi mahasiswa yang belum cetak KHS segera hubungi admin dan segera lakukan Input KRS, sebelumnya jangan lupa Registrasikan dulu NIM mu ke Admin
  • 1 tahun yang lalu / Semua Mahasiswa silahkan download Kalender Akademik dan Jadwal Perkuliahan di menu Downlaod
Refleksi 95 Tahun NU: Tantangan Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Umat

Pada 31 Januari 2021, Nahdlatul Ulama (NU) telah berusia 95 tahun. Di usia menjelang satu abad, banyak hal yang telah NU sumbangkan kepada bangsa Indonesia. Mulai dari dulu, pada masa-masa awal berdirinya bangsa ini, kalangan ulama dan santri NU ikut berjuang mati-matian dalam rangka merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari rong-rongan para penjajah. Tak cukup sampai di situ, kontribusi NU terus berlanjut hingga saat ini dalam berbagai aspek kehidupan kebangsaan. Salah satu yang paling terlihat yaitu perjuangan NU dalam menjaga keutuhan negara ini.

Sebagai organisasi keagamaan, kiprah NU dalam menyebarkan ajaran Islam sudah tidak perlu diragukan lagi. NU mempunyai corak dakwah yang khas, yaitu cara-cara dakwah yang inklusif. Cara dakwah yang memilih jalan tengah (washatiyah), moderat, damai, “tersenyum” dan mengedepankan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil a’lamin.

Dalam perjalanannya yang hampir menjelang satu abad, tentu perkembangan dan perjalanan NU juga ikut serta mewarnai sejarah dan perkembangan bangsa ini. Martin van Bruinessen, seorang profesor bidang Antropologi dari Universitas Utrecht, Belanda, dalam bukunya yang berjudul “NU; Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru” (1994), menggambarkan dengan begitu gamblang bagaimana keikutsertaan NU dalam mewarnai semua liku perjalanan bangsa Indonesia.

Tentu ada banyak pencapaian yang berhasil NU torehkan. Namun, ada beberapa hal lain yang perlu untuk terus diperbaiki ke depannya. Salah satunya adalah dari segi kemandirian ekonomi umat (warga) NU.

Sejatinya NU memang sudah konsen pada persoalan ekonomi umat dari sejak awal mula pendirian NU (Hasanuddin Wahid, 2021). Pada masa awal proses pendirian NU pada 1926 silam, ada tiga pilar utama yang menjadi fondasi yaitu nahdlatul waton dimaknai sebagai kebangkitan nasionalisme dan politik (kebangkitan bangsa), taswirul afkar dimaknai sebagai kebangkitan pemikiran keilmuan dan keagamaan, dan nahdlatut tujjar dimaknai sebagai semangat pemberdayaan dan kebangkitan ekonomi.

Dalam hal pemberdayaan ekonomi umat, sepertinya NU masih belum terlihat menonjol hingga saat ini. Bahkan bisa dikatakan masih jalan di tempat. Apalagi, fakta di lapangan memperlihatkan bahwa kebanyakan warga NU berdomisili di desa dan wilayah pedesaan hingga saat ini masih menjadi kantung-kantung kemiskinan. Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus dipikirkan secara bersama. Kira-kira, model pemberdayaan seperti apa yang kiranya tepat untuk diterapkan dengan kondisi dan kultur yang ada.

Perbaiki Manajemen Pengelolaan

Salah satu persoalan yang menjadikan pemberdayaan ekonomi warga NU masih jalan di tempat, menurut pandangan penulis, adalah sistem pemberdayaan ekonomi masih belum ter-“manaj” dengan baik dan rapi. Ekonomi keumatan cenderung masih berjalan secara sendiri-sendiri dan belum bisa berjalan secara berjamaah.

Selain itu, perlu adanya grand desain rencana pemberdayaan ekonomi umat secara makro mulai dari level pusat sampai pada tingkatan terkecil di desa-desa. Grand desain rencana pemberdayaan perlu dirumuskan secara baik dan detail guna mencari dan menemukan model-model pemberdayaan terbaik. Ada banyak warga Nu yang menjadi ahli ekonomi yang kiranya bisa mengusulkan gagasan-gagasan mengenai bagaimana model pemberdayaan terbaik dan yang cocok diterapkan untuk warga NU.

Ada banyak contoh model pemberdayaan yang berhasil, terutama terkait bagaimana model pemberdayaan ekonomi melalui modal yang dikelola secara bersama (berjamaah). Salah satu contoh suksesnya seperti yang dilakukan oleh Grameen Bank dari Bangladesh, hingga bisa mengantarkan pemiliknya Muhammad Yunus meraih penghargaan nobel perdamaian tahun 2006.

Terakhir yang tidak kalah pentingnya, diperlukan kontribusi dari banyak kalangan guna mawujudkan kemandirian ekonomi warga NU. Semoga di usia yang sudah 95 tahun ini, NU bisa terus berbedah dan melakukan perbaikan dalam berbagai aspek, termasuk dalam aspek kemandirian ekonomi umat. Selamat hari lahir yang ke 95 NU.

Ditulis oleh Misbahul Munir
Staf Pengajar di Jurusan Ekonomi Syariah STAI Ash-Shiddiqiyah Lempuing Jaya OKI

Catatan: Tulisan ini telah diterbitkan di Tribun Sumsel Edisi 5 Februari 2021, Halaman 10.

Bagikan :

TINGGALKAN KOMENTAR

Data Kampus

STAI AS-SHIDDIQIYAH

NSPTI : 347446868

Jalan Lintas Timur KM.123
KEC. Lempuing Jaya
KAB. Ogan Komering Ilir
PROV. Sumatera Selatan
KODE POS 30652

Kalender Masehi

Juni 2021
S S R K J S M
« Mei    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930